Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Listing code program bahasa C++ Sederhana


 ketikan listing program di atas ke dalam aplikasi yang berbahasa C++ dan kemudian coba hasil pengeluaranya.


listing code program bahasa assembli sederhana

listing code program bahasa assembli sederhana



org 0h
mulai: mov A,P3
                cjne A,#0FEh,banding1
                mov p1,a
                mov p0,#0c0h
                sjmp mulai
banding1:
                cjne A,#0FDh,banding2
                mov p2,a
                mov p0,#0f9h
                sjmp mulai
banding2:
                cjne A,#0FBh,banding3
                mov p2,a
                mov p0,#0a4h
                sjmp mulai
banding3:
                cjne A,#0F7h,banding4
                mov p2,a
                mov p0,#0b0h
                sjmp mulai
banding4:
                cjne A,#0EFh,banding5
                mov p2,a
                mov p0,#099h
                sjmp mulai
banding5:
                cjne A,#0DFh,banding6
                mov p2,a
                mov p0,#092h
                sjmp mulai
banding6:
                cjne A,#0BFh,banding7
                mov p2,a
                mov p0,#082h
                sjmp mulai
banding7:
                cjne A,#07Fh,mulai
                mov p2,a
                mov p0,#0f8h
                sjmp mulai
                ;
                end

               
               
               
               
               
               
               

Listing code program CI Controller menggunakan CSS




1.       File “c_tugascss.php” yang berada di dalam folder “controller”.
<?php
class c_tugascss extends CI_Controller{
function tugas(){
          $this->load->model("m_identitas");
          $data=array();
          $data["tugas"]=$this->m_identitas->tugas;
          $this->load->view("v_c_hellotugas",$data);
          }
}
?>

2.       File “m_identitas.php” yang berada di dalam folder “model”.
<?php
class m_identitas extends CI_Model{
var $tugas=array(
                          "NIM"=>"14.11.0110",
                          "Nama"=>"Taufik Ari Arnandan",
                          "Kelas"=>"TI 14 B"
                          );
}
?>



3.       File “v_c_hellotugas.php” yang berada di dalam folder “view”.
<html>
<head>
      <title>Hello Tugasku !!</title>
            <style type="text/css">
            #container{
                   margin: 20px;
                                           border: 1px solid #d0d0d0;
                                           background: #fff000;
                                           height: 600px;
                                           width: 1300px;
                                           font-size: 50px;
                                           -webkit-box-shadow: 0 0 8px #d0d0d0;
                                           }
                          </style>
</head>
<body>
<center>
<div id="container">
<?php
echo "Tugas Framework Web<br/><br/>";
$biodata=array_keys($tugas);
$ulang=sizeof($biodata);


For ($c=0;$c<$ulang;$c++){
          echo "<br />";
echo $biodata[$c]." : ".$tugas[$biodata[$c]];
}
?>
</div>
</center>
</body>
</html>

4.       Hasil output program :

Materi 1 Belajar Photoshop Untuk Pemula

Materi 1 Belajar Photoshop Untuk Pemula

LANGKAH I
1.  Buka Adobe Photoshop CS5
2.  Klik File > New

3.  Sesuaikan pengaturan lembar kerja > OK
4.  Klik Create a New Layer

5.  Klik Adjustment Layer > Solid Color > pilih warna background putih > OK
  
6.  Klik kanan pada Layer baru Color Fill 1 > pilih Razterise Layer

7.  Gunakan tool Gradient Tool pada daftar Tools ( Klik kanan > Gradient Tool )
  
8.  Atur warna yang akan digunakan, Warna 1 (merah) dan Warna 2 (kuning) double klik ada warna
  
9.  Drag kursor pada media layar (dari atas ke bawah)
  
10.  Lakukan uji coba dengan efek gradient yang berbeda menggunakan tool berikut


LANGKAH II
1.  Buat lembar kerja baru, klik File > New
2.  Gunakan seting lembar yang baru sesuai dengan seting lama, klik OK
3.  Klik Create a New Layer
4.  Seting / pilih warna dasar, Warna 1 (hijau) dan Warna 2 (biru)
5.  Klik Adjustment Layer > Gradient

6.  Pada jendela Gradient Fill klik pilihan warna pada kolom Gradient
  


7.  Klik bottom panah pilihan pada kolom warna gradient > klik Reset Gradient

8.  Klik OK pada jendela konfirmasi penggantian template gradient

9.  Pilih template gradient yang telah kita persiapkan


10. Klik OK
 Pengaruh Pemikiran-pemikiran Imam Al Ghazali terhadap Masa dan Generasi Sesudahnya

Pengaruh Pemikiran-pemikiran Imam Al Ghazali terhadap Masa dan Generasi Sesudahnya


Pemikiran Al Ghazali banyak mempengaruhi pada masa setelahnya, karena sesuai dengan ajaran Islam. Ia mendapat gelar Hujjatul Islâm karena jasanya dalam mengomentari dan melakukan pembelaan terhadap berbagai serangan dari pihak luar, baik Islam maupun orientalis Barat.

Pemikiran Al Ghazali dan Ibn Rusyd pada dasarnya memiliki satu garis kesamaan, yaitu sebuah garis yang berangkat dari titik pemikiran Ibn Sina dengan aliran filsafat yang memiliki bangun dasar wahdatul wujûd. Al Ghazali mengemukakan bahwa para filosof yang mengajarkan tiga hal (keabadian alam, pengetahuan Tuhan yang universal dan menolak bangkitnya jasad setelah mati) adalah kafir, termasuk yang mengikutinya.[11]

Beberapa filosof yang terpengaruhi pemikiran-pemikiran Al Ghazali dari karya-karyanya, yaitu:[12]

B Mic Donal menerjemahkan beberapa pasal dari Ihyâ` ‘Ulûmuddîn.
H Baeur yang menterjemahkan Qawâ’id Al ‘Aqâ`id ditransfer ke dalam bahasanya, yaitu Dogmatic Al Ghazali’s.
Carra De Vaux yang menterjemahkan buku Tahâfut Al Falâsifah.
De Boer dan Asin Palacois yang masing-masing menterjemahkan Tahâfut Al Falâsifah.
Barbier De Minard yang menterjemahkan Al Munqizhu min Adl Dlalâl.
WHT. Craidner, London yang menterjemahkan buku Miskat Al Anwâr.

Nama lengkap Al Ghazali adalah Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Lahir di Provinsi Khurasan, Republik Islam Irak, tahun 450 H (1058 M). Ayahnya adalah memintal benang wol.

Awal mula Al Ghazali mengenal tashawuf adalah ketika sebelum ayahnya meninggal, namun dalam hal ini ada dua versi: ayahnya sempat menitipkan Al Ghazali kepada saudaranya, Ahmad seorang sufi. Sejak kecil, Al Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu. Al Juwaini kemudian memberinya gelar Bahrûm Mughrîq (laut yang menenggelamkan). Dan empat tahun Al Ghazali bergelimang ilmu pengetahuan dan kemewahan duniawi. Di masa inilah dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan filsafat. Bermacam-macam pertanyaan timbul dari hati sanubarinya. Dia menyingkir dari kursi kebesaran ilmiahnya di Baghdad menuju Mekkah, kemudian ke Damaskus dan tinggal disana sambil mengisolir diri untuk beribadah dan mengambil jalan sufi. Ia wafat pada tanggal 14 Jumâdil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usia 55 tahun.

Al Ghazali mendapat gelar kehormatan Hujjatul Islâm atas pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam, terutama terhadap kaum bâthiniyyah dan kaum filosof. Dia seorang ulama, pendidik, ahli pikir dalam ilmunya dan pengarang produktif.

Karya-karya tulisnya meliputi: Maqâshid Al Falâsifah, Tahâfut Al Falâsifah, Mi’yâr Al ‘Ilm, Ihyâ` ‘Ulûm Ad Dîn, Al Munqidz Min Adl Dlalâl, Al Ma’ârif Al ‘Aqliyyah, Misykat Al Anwâr, Minhaj Al ‘Âbidîn, Al Iqtishâd fî Al I’tiqâd, Ayyuhâ Al Walad, Al Mustasyfa, Iljam Al ‘Awwâm ‘an ‘Ilm Al Kalâm dan Mizan Al ‘Amal.

Filsafat Imam Al Ghazali meliputi Filsafat Ketuhanan (Masalah Wujud, Dzat dan Sifat serta Af’al); Tashawuf Al Ghazali, tidak melibatkan diri dalam aliran tashawuf inkarnasi (pantheisme) dan karya-karyanya tidak keluar dari sunnah Islam yang benar. Pengetahuannya tidak berdasarkan hasil-hasil argumen Ilmu Kalam; Filsafat Etika/ Akhlâq Al Ghazali. Akhlâq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dan tindak-tanduk dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Al Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang berkuasa dan sangat memelihara dan menjadi rahmatan lil ‘âlamîn. Adapun kesenangan menurut Al Ghazali ada dua, yaitu kepuasan dan kebahagiaan. Pemikiran Al Ghazali banyak mempengaruhi pada masa setelahnya. Beberapa filosof yang terpengaruhi pemikiran-pemikiran Al Ghazali dari karya-karyanya, yaitu: B Mic Donal, H Baeur, Carra De Vaux, De Boer dan Asin Palacois, Barbier De Minard dan WHT. Craidner.

 Filsafat Imam Al Ghazali

Filsafat Imam Al Ghazali



1. Filsafat Ketuhanan Al Ghazali

Al Ghazali memandang metafisika (ketuhanan) dengan memberi reaksi keras terhadap Neoplatonisme Islam. Menurutnya, banyak kesalahan para filosof, karena mereka tidak teliti dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu, Al Ghazali mengecam secara langsung dua tokoh Neoplatonisme muslim (Al Farabi dan Ibn Sina) serta secara tidak langsung terhadap Aristoteles, guru mereka. Menurut Al Ghazali, dalam Tahâfut Al Falâsifah, para pemikir bebas tersebut ingin meninggalkan keyakinan-keyakinan Islam dan mengabaikan dasar-dasar pemujaan ritual dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.

Pandangan Al Ghazali tentang filsafat ketuhanan terdiri dari tiga masalah pokok, yaitu:

a. Masalah Wujud

Al Ghazali mengikuti tradisi ulama kalam Al Asy’ari, dalam menetapkan wujud Tuhan. Beliau menggunakan dalil wujud Tuhan atas dua bentuk, yaitu dalil naqli dan dalil aqli. Penggunaan dalil naqli yakni melalui perenungan terhadap ayat-ayat Al Qur`ân sambil memperhatikan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan bahwa dengan perenungan ayat dan fenomena alam yang serba teratur, manusia akan sampai pada pengakuan terhadap wujud Tuhan.

Ia menunjukkan wujud Tuhan melalui dalil aqli dan ia mempertentangkan wujud Allah dengan wujud makhluk. Wujud Allah adalah qadîm, sedangkan wujud makhluk adalah hadîts (baru). Wujud hadîts menghendaki sebab gerak yang mendahuluinya sebagai penggerak yang mengadakannya. Sebab musabab ini tidak akan berakhir sebelum sampai kepada Yang Qadîm yang tidak dicipta dan digerakkan. Sedangkan jika wujud Allah hadîts, tentu akan menghendaki sebab musabab seperti itu juga, yang sudah pasti tak akan ada pangkal pokok geraknya. Hal demikian adalah suatu hal yang mustahil dan tak akan menghasilkan apa-apa.

b. Masalah Dzat dan Sifat

Al Ghazali membatasi diri dari pembahasan tentang Dzat Tuhan dengan mengemukakan hadits Nabi Muhammad saw. yang melarang manusia memikirkan dzat Allah SWT. Dari itu, beliau menegaskan bahwa akal menusia tidak akan sampai mencapai dzat itu. Cukup bagi manusia hanya mengetahui sifat af’âlnya saja. Sedangkan dalam membahas sifat Tuhan, Al Ghazali cenderung mengikuti para mutakallimîn dari madzhab Asy’ari. Beliau menetapkan adanya sifat dzat yang diistilahkan dengan sifat salbiyyah (sifat yang menafikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dzat Allah SWT). Sifat salbiyyah ini ada lima, yaitu: Qidâm (tidak berpemulaan), Baqâ` (kekal), Mukhâlafah li Al Hawâdits (berlainan dengan yang baru), Qiyâmuh Bi Nafsih (berdiri sendiri) dan Wahdâniyyah (esa).

Sifat-sifat ini menafikan kesempurnaan makhluk dan menetapkan kesempurnaan Allah SWT. Selain sifat salbiyyah, adapula sifat ma’âni (sifat-sifat yang melekat pada dzat Allah SWT.) Dia bukanlah dzatnya dan adanya sifat ini bersamaan dengan adanya Allah SWT. dan tidak dapat dipisahkan dari dzatnya. Sifat ma’âni ada tujuh yaitu: Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak), ‘Ilmu (Maha Mengetahui), Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha Melihat), Kalam (Maha Berbicara) dan Hayat (Maha Hidup).

c. Masalah Af’al

Al Ghazali berpendapat bahwa perbuatan Allah SWT. tidak terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi Allah SWT. juga menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiarnya. Perbuatan manusia tidaklah terlepas dari kehendak Allah SWT. Manusia hanya diberi kekuasaan dalam lingkungan kehendak Tuhan. Jadi pebuatan dan ikhtiar manusia adalah terbatas dan tidak akan melampaui garis-garis qadar. Dalam menguraikan af’al ini, Al Ghazali mengembalikan permasalahan kepada firman Allah SWT dalam Q.S. Fâthir ayat 8.

2. Tashawuf Al Ghazali

Al Ghazali dengan sifat kritisnya kadang tidak percaya pada kebenaran semua (oxioma atau sangat mendasar) yang akhirnya melahirkan skeptik.[7] Dia pernah mengutarakan pendapatnya terkait cahaya, sebagai berikut:

“Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan pengetahuan, dan siap yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung pada argumen-argumen, sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian luas… Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan dalam hati sanubari seseorang.”

Berdasarkan ungkapan dia tersebut, dapat disimpulkan bahwa satu-satunya pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan kebenarannya bagi Al Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan Tashawuf.[8] Ungkapan ini ada setelah dia tidak merasa puas dengan ilmu kalam dan filsafat serta meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah Nizhamiyah, Baghdad tahun 1095 M dan pergi bertapa di salah satu menara Mesjid Umawi di Damaskus.

Tashawuf Al Ghazali berbeda dengan tashawuf yang berkembang saat itu. Ia tidak melibatkan diri dalam aliran tashawuf inkarnasi (pantheisme) dan karya-karyanya tidak keluar dari sunnah Islam yang benar. Pengetahuannya tidak berdasarkan hasil-hasil argumen Ilmu Kalam. Sehingga dari saat tersebut, tashawuf mulai digandrungi masyarakat lagi.

3. Filsafat Etika/ Akhlâq Al Ghazali

Tujuan dari butir-butir nilai akhlâq yang dikemukakannya adalah sebagai sarana mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) dengan arti membuka hijab-hijab yang membatasi diri manusia dengan Tuhannya, karena menurutnya, akhlâq sangat terkait erat dengan filsafat ketuhanannya.[9]

Menurut Al Ghazali, akhlâq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dan tindak-tanduk dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam hal ini, terdapat persamaan antara Imam Al Ghazali, Ibn Maskawaih dan Tusi, bahwa akhlâq harus dimulai dengan pengetahuan tentang jiwa, kekuatan dan sifat-sifatnya. Karena ia merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan sebaliknya.

Berbicara masalah jiwa, sebagaimana Tusi dan filosof lainnya, Al Ghazali membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu: jiwa bernafsu (an nafs al bahîmiyyah) yang berasal dari materi, jiwa berani (an nafs as sabû’iyyah) dan jiwa berfikir (an nafs an nâthiqah) yang berasal dari ruh Tuhan yang tidak akan hancur. Al Ghazali juga membuat tabulasi kebaikan pokok, yang terdiri dari empat hal, yaitu kebijaksanaan, keberanian, menjaga kesucian dan keadilan. Empat hal ini merupakan jalan tengah dari ketiga jenis jiwa tadi. Dan untuk mencapai jalan tengah ini, diperlukan akal yang berfungsi efektif bagi terciptanya posisi tengah jiwa berpikir dan syari’at berfungsi efektif untuk terciptanya posisi tengah jiwa bernafsu dan berani.

Al Ghazali mengenalkan konsep jalan lurus (ash shirât al mustaqîm) yang dinyatakan lebih halus daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada mata pisau. Kesempurnaan jalan ini akan dapat dicapai dengan penggabungan antara akal dan wahyu.

Ihyâ` ‘Ulûm Ad Dîn merupakan salahsatu karya Al Ghazali yang mengupas tentang pemikiran filsafat etikanya. Maka, dapat dikatakan bahwa filsafat etika Al Ghazali adalah Tashawuf Al Ghazal, yang bertujuan pokok:

Maksudnya bahwa manusia semampunya meniru keteladanan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), serta sifat-sifat yang disukai Tuhan, seperti sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas, beragama dan lainnya.

Akhlâq merupakan keseimbangan antara daya ilmu dan daya pengendalian amarah. Dan jalan untuk mencapai akhlâq ialah dengan naluri insani serta latihan-latihan. Latihan ini dilakukan dengan amal-amal. Adapun tujuan dari akhlâq luhur adalah menahan diri dari mencintai dunia wujud dan mengalihkannya kepada nikmatnya mencintai Allah SWT.

Al Ghazali berpendapat bahwa watak manusia pada dasarnya adalah seimbang, dan lingkungan dan pendidikanlah yang memperburuknya. Sebagaimana prinsip Islam, Al Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang berkuasa dan sangat memelihara dan menjadi rahmatan lil ‘âlamîn. Untuk taqarrub pada Allah, yang terpenting adalah muqârabah dan muhâsabah. Adapun kesenangan menurut Al Ghazali ada dua, yaitu kepuasan (ladzdzât) ketika mengetahui kebenaran sesuatu dan kebahagiaan (sa’âdah) ketika mengetahui kebenaran sumber dari segala kebahagiaan itu sendiri (ma’rifatullâh disertai musyâhadah al qalb).[10]